Kamis, 14 Juli 2011

NISHFU SYA'BAN

Malam Nishfu Sya'ban Menurut Perspektif Hasan Al Banna



Islamedia - Tulisan ini merupakan salah satu karya Imam Hasan Al Banna yang sampai saat ini masih diabadikan. Dalam tulisan ini beliau mengulas tentang beberapa permasalahan, diantaranya adalah Merayakan malam nishfu Sya'ban, membaca doa dan shalat pada malam tersebut, serta menjelaskan tentang hukum syariat terkait dengan permasalahan yang telah disebut diatas. Beliau menuliskan pandangannya dengan ilmiyah namun sedarhana dan mudah untuk dipahami. Tulisan ini juga memperlihatkan kematangan beliau dalam ilmu tafsir, hadis, fikih, dan ushul fikih.



Setelah itu beliau menjelaskan tentang kondisi riil kaum muslimin; ada diantara mereka yang keliru dan berlebihan dalam menyikapi malam nisfu sya'ban. Melalui tulisan ini beliau ingin mengembalikan mereka agar kembali kepada pemahaman yang benar tentang malam nisfu sya'ban. Bahkan dalam pembahasan fikih yang dalam, Imam Al Banna memberikan trik dan cara dalam menghadapi kemunkaran dan kekeliruan yang sering terjadi dikalangan masyarakat awam pada saat malam nisfu sya'ban. Namun ada satu hal yang menarik dalam tulisan Imam Al Banna ini, beliau tetap menerapkan kaidah "Alla Yuaddi Inkarul Munkar Ilaa Munkari Akbar" (Melarang yang munkar jangan sampai menimbulkan kemunkaran yang lebih besar) dalam merubah pandangan masyarakat awam. Menerapkan amar ma'ruf harus dengan cara yang baik. Kaidah ini sering dilalaikan oleh para dai dalam melakukan dakwah di masyarakat.


Bismillahirrahminirrahim


Makalah ini pertama kali di terbitkan di surat kabar "Ikhwanul Muslimun" edisi 20 tahun I (1352 H). Kemudian diterbitkan kembali pada surat kabar yang sama di bulan sya'ban tahun 1353 H.



Pada saat itu datang seorang ikhwah dari Propinsi Daqahlia untuk menanyakan tentang hadis yang terkait dengan nisfu sya'ban, kebiasaan masyarakat yang melakukan doa dan sejenisnya pada malam itu.


Insya Allah pertanyaan ini akan kami jawab sesuai dengan kemampuan kami berdasarkan pada referensi yang ada pada kami dan berlandaskan nash-nash yang ada yang kami ketahui. Namun kami tidak menolak apabila ada dalil lain yang berbeda dari apa yang kami jelaskan pada tulisan ini. Kami akan sangat berterima kasih bila ada hujjah lain yang berbeda yang dapat diberikan kepada kami. kebenaran harus berada diatas segala dan menjadi tujuan utama para tholibul ilmi. Wallahul Musta'an


Pembahasan tentang Malam Nisfu Sya'ban akan kita bagi menjadi tiga; Pembahasan hadis-hadis yang terkait dengan malam nisfu sya'ban; kedua, kebenaran dan kekeliruan yang di yakini masyarakat awam tentang malam nisfu sya'ban; ketiga, hukum berdoa sebagaimana doa yang sudah dikenal oleh masyarakat luas.



Pertama, Dalil-dali Yang Terkait dengan Keutamaan Malam Nisfu Sya'ban


Firman Allah dalam surat Ad Dukhan:

﴿إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ* فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ﴾ (الدخان: 3، 4)


Ulama berbeda pendapat tentang kata "Malam" yang terdapat pada ayat diatas.



Pendapat pertama:
bahwa yang dimaksud dengan "Malam" pada ayat diatas adalah malam lailatul qadar, yaitu malam yang terdapat pada bulan Ramadhan.


Pendapat kedua:
bahwa yang dimaksud dengan "Malam" pada ayat tersebut adalah malam nisfu sya'ban.


Pendapat ketiga:
Ulama yang berpendapat bahwa, bisa jadi malam lailatul qadar terjadi pada pertengahan bulan sya'ban.


Pendapat ketiga ini ingin memadukan dua pendapat sebelumnya, namun pendapat ini sangat lemah sekali. Sehingga tidak ada alasan yang kuat untuk mempertahankan pendapat ketiga.


Sekarang kita akan fokuskan pembahasan pada dua pendapat pertama secara ringkas. Pendapat pertama yang menyebutkan bahwa ayat tersebut berbicara tentang lailatul qadar lebih rajih (kuat) dikalangan mayoritas ulama tafsir dan ulama pentahqiq.


Berikut adalah dalil dan hujjah yang menyatakan bahwa malam tersebut adalah malam lailatul qadar lebih kuat dari malam nisfu sya'ban.

- قال الألوسي في تفسيره عند قوله تعالى: ﴿فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِين﴾: "هي ليلة القدر على ما روى ابن عباس وقتادة وابن جبير ومجاهد وابن زيد والحسن، وعليه أكثر المفسرين والظواهر معهم، وقال عكرمة وجماعة: هي ليلة النصف من شعبان".
Artinya:
"Telah berkata Al Alusi dalam Tafsirnya pada saat membahas ayat:
(فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِين) , bahwa yang dimaksud adalah lailatul qadar, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Abbas, Qatadah, Ibnu Jubair, Mujahid, Ibn Zaid, dan Al Hasan. Pendapat ini adalah pendapat kebanyakan ahli tafsir, termasuk Az Zawahiri didalamnya. Sedangkan Ikrimah dan Jamaah berpendapat, bahwa malam itu adalah malam nisfu sya'ban".

وقال الطبري في تفسيره عن هذه الآية الكريمة: واختلف أهل التأويل في تلك الليلة، أي ليلة من ليالي السنة هي؟ فقال بعضهم: هي ليلة القدر، ثم ذكرهم، وقال بعد سردهم: "وقال آخرون: بل هي ليلة النصف من شعبان، ولم يذكرهم"، ثم قال: "والصواب في ذلك قول من قال هي ليلة القدر؛ لأن الله- جل ثناؤه- أخبر أن ذلك كذلك"، وقد أُكد هذا المعنى في ذلك البحث نفسه.
Artinya:
At Thabari mengatakan dalam tafsirnya tentang ayat yang mulia ini. Telah berbeda pendapat para ahlu ta'wil tentang makna "Malam" pada ayat tersebut. Apakah malan tersebut bagian dari malam-malam dalam satu tahun? Sebagian orang mengatakan, "Malam itu adalah malam lailatul Qadar. Kemudian mereka menjelaskan alasannya.

Sedangkan yang lainnya mengatakan, "Bahwa malam itu adalah malam nisfu sya'ban. Namun tidak mereka tidak menjelaskan alasannya. Kemudian At Thabari berkata, "Yang benar adalah mereka yang mengatakan bahwa malam itu adalah malam lailatul qadar. Karena Allah telah mengabarkan tentang hal tersebut. Penegasan makna tersebut telah ditegaskan dalam pembahasan tersebut".


وقال النيسابوري في تفسير الآية الكريمة أيضًا: وأكثر المفسرين على أنها ليلة القدر لقوله تعالى: ﴿إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ﴾ (القدر:1)، وليلة القدر عند الأكثر في رمضان.. ثم نقل كلام الطبري وقال بعده: وزعم بعضهم كعكرمة وغيره أنها ليلة النصف من شعبان، وما رأيت لهم دليلاً يعول عليه، فها أنت ترى من أقوال هؤلاء الأعلام أن الآية الكريمة لا تصلح أن تكون دليلاً في فضل ليلة النصف من شعبان.
Artinya:

An Naisaburi berkata dalam tafsirnya tentang makna ayat tersebut. Kebanyakan mufassirin mengatakan bahwa malam itu adalah malam lailatul qadar, berdasarkan firman Allah surat Al-Qadar : 1 إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ. Sedangkan menurut mayoritas ulama, malam lailatul qadar terjadi pada bulan ramadhan.... kemudian Naisaburi menukil perkataan At Thabari, dan memberikan komentar setelahnya: "Sebagian orang seperti Ikrimah dan yang lainnya menyangka bahwa malam itu adalah malam nisfu sya'ban. Saya tidak mendapati dalil yang mereka gunakan. Apakah anda juga menemukan dari perkataan para ulama tersebut yang layak dijadikan dalil bahwa ayat tersebut dapat menjadi dalil/hujjah untuk menyatakan keutamaan malam nisfu sya'ban.



Kedua, Hadis-hadis yang Yang Terkait dengan Keutamaan Malam Nisfu Sya'ban


أ- ما أخرجه بن ماجه والبيهقي في شعب الإيمان عن علي- كرم الله وجهه- قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم: "إذا كانت ليلة النصف من شعبان فقوموا ليلها، وصوموا نهارها، فإن الله ينزل فيها لغروب الشمس إلى سماء الدنيا، فيقول: ألاَ من مستغفر لي، فأغفر له! ألا مسترزق فأرزقه! ألا مبتلىً فأعافيه! ألا كذا ألا كذا حتى يطلع الفجر".
Artinya:

Rasulullah Saw bersabda, "Jika malam nisfu sya'ban, maka shalatlah pada malam harinya dan berpuasa pada siangnya. Karena sesungguhnya Allah turun pada saat menjelang terbenam matahari ke langit yang paling terdekat. Lalu Allah menyeru, 'Siapa orang yang beristighfar kepadaKU maka akan AKU ampuni. Siapa yang meminta rizki, maka AKU akan memberikan rizki. Siapa yang sakit, maka akan AKU sembuhkan! Siapa yang begini, siapa yang begini...dan seterusnya hingga terbit fajar" HR. Ibnu Majah, Baihaqi dalam Syu'abul Iman dari Imam Ali karamahullahu Wajhahu

ب- ومنها: ما أخرجه الترمذي وابن أبي شيبة والبيهقي وابن ماجه عن عائشة قالت: فقال: "إن الله- عز وجل- ينزل في ليلة النصف من شعبان إلى السماء الدنيا، فيغفر لأكثر من عدد شعر غنم بني كلب".

Artinya
Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya Allah turun pada malam nisfu sya'ban ke langit terdekat. Memberikan pengampunan lebih banyak dari jumlah bulu domba Bano Kalb". HR. Tirmidzi, Ibnu Abi Syaibah, Al Baihaqi, dan Ibnu Majah dari Aisyah.

ج- ومنها ما أخرجه أحمد بن حنبل في المسند عن عبدالله بن عمرو بن العاص أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: "يطلع الله- عز وجل- إلى خلقه ليلة النصف من شعبان، فيغفر لعباده إلا اثنين: مشاحن، وقاتل نفس".

Artinya
Allah menemui hamba-Nya pada malam nisfu sya'ban dan memberikan ampunan kepada hamba-Nya kecuali dua orang; yang suka bertengkar dan melakukan bunuh diri" HR. Ahmad bin Hanbal dalam Musnad dari Abdullah bin Amr bin Ash


jika hadis hadis tersebut diatas kedudukannya kuat dan selamat dari penyakit hadis, maka akan menjadi dalil dan hujjah bagi keutamaan malam nisfu sya'ban. Namun sangat disayangkan, ternyata hadis-hadis tersebut mendapatkan komentar dari para ulama hadis dan mereka melemahkannya. Sebagian dari muhadisin mengatakan bahwa hadis pertama sanadnya adalah dhaif (lemah), diantara mereka adalah Al Iraqi. Sedangkan Al Hafiz Al Mundziri berkomentar bahwa hadis yang ketiga sanadnya "Layyin" (lembek). Bahkan Al Hafiz Abu Bakar Al Araby mengakatakan, "Tidak ada yang shahih tentang Nisfu Sya'ban".


Adapun saya berkeyakinan bahwa hadis-hadis ini memang dhaif, namun kita tidak bisa mengingkari bahwa malam nisfu sya'ban memiliki keutamaan daripada malam-malam lainnya di bulan ini. Bila ingin melakukan shalat malam, maka lakukanlah shalat yang disyariatkan dan bila ingin melakukan shaum di siang harinya, maka lakukanlah shaum yang disyariatkan. Demikian pula melakukan hal-hal yang mustahabbat pada hari-hari tersebut, sesuai dengan kaidah mengamalkan hadis dhaif dalam fadhail amal. Namun dengan syarat, tidak menganggap sebagai ibadah. sebab tidak ada dalil dalam hal tersebut


Kedua, Keyakina Masyarakat Awam dan Ibadah di Malam Harinya
1. Ada yang berkayakinan bahwa malam ini adalah malam diangkatnya amalan. Sebelumnya sudah kita bahas, bahwa malam tersebut bukan malam nisfu sya'ban, tapi malam lailatul qadar sebagaimana pendapat yang rajih


2. Keyakinan bahwa barangsiapa yang hadir pada saat berdoa di masjid selepas shalat magrib dan melaksanakan shalat sebagaimana yang disebutkan, maka ia tidak akan mati pada tahun tersebut. Padahal sudah jelas, bahwa Allah lah yang menentukan ajal. Mereka akan merasa menyesal apabila tidak bisa berkumpul malam ini. Hal-hal yang seperti ini adalah keyakinan yang batil dan tidak ada landasannya


3. Membaca surat yasin pada malam nisfu sya'ban. mereka berkumpul dan membaca doa dengan cara tertentu. Mengenai hal ini saya belum pernah menemukan dalilnya. Karena sesungguhnya membaca Al Quran sangat disukai pada setiap waktu. Namun bila mengkhususkan hanya pada malam tersebut untuk membaca surat yang khusus, maka hal itu tidak pernah disebutkan dalam dalil apapun. Saya belum mendapatkan dalilnya tentang bolehnya hal tersebut, bila anda memilikinya, silahkan sampaikan ke saya.


4. Mereka mengatakan bahwa ada shalat khusus pada malam tersebut, yaitu 100 rakaat. Setiap rakaat setelah fatihah membaca QUL HUWALLAHU AHAD sebanyak 11 kali. Jika tidak sanggup, maka shalat 10 rakaat, setiap rakaat membaca 100 x QUL HUWALLAHU AHAD setelah Al Fatihah. Hal tersebut disebutkan oleh imam Al Gazali dalam kita Ihya Ulumuddin. Al Gazali berkata, "Dahulu para salaf melaksanakan shalat ini dan mereka menyebutnya dengan sebutan shalat kheir. Mereka melaksanakannya secara berjamaah.


Diriwayatkan dari Al Hasan bahwasanya ia berkata, "Telah mengabari kepadaku 30 sahabat nabi, bahwasanya barangsiapa yang melaksanakan shalat ini di malam ini, maka allah akan memandangkan dengan 70 kali pandangan. dan setiap pandangan akan dikabulkan 70 permintaan. yang paling sedikit adalah mendapatkan ampunan. Demikian Imam Al Gazali di kitab Ihya Ulumuddin.


Al Hafiz Al Iraqi telah membantah itu semua dengan mengatakan bahwa hadis tentang shalat pada malam nisfu sya'ban adalah hadis yang batil. Pendapat tersebut adalah pendapat mayoritas ulama. Dalilnya adalah, hadis-hadis yang disebutkan tidak tercantum dalam kitab para huffaz yang terpercaya. Kalaupun ada, tidak ada periwayat dari kalangan sahabat yang dikenal, sanadnya tidak ada yang sampai kepada rasulullah saw. Sebagaimana diketahui bersama, bahwa pengkhususan suatu ibadah butuh kepada dalil syar'i yang kuat. Sedangkan pada persoalan terkait tidak ada dalil yang menjelaskan tentang shalat tersebut.


5. Berkayakinan dengan doa yang susunan sudah kita ketahui bersama. untuk hal ini pembahasan khusus, karena banyak perbedaan dikalangan masyarakat.

Kesimpulan
Jika disimpulkan, maka:
1. Malam nisfu Sya'ban adalah malam yang memiliki fadhilah (keutamaan). Menghidupkannya dengan bentuk ketaatan kepada allah atau shaum pada hari tersebut adalah suatu yg sukai

2. Mengkhususkan dengan ibadah tertentu seperti membaca yasin, shalat kheir, dan doa-doa khusus adalah sesuatu yang tidak ada dalilnya dan tidak memiliki tuntutan dari syariat.

Hasan Al Banna
From: "arief santo" : a121ef_s@yahoo.co.id

Selengkapnya...

Sabtu, 09 Juli 2011

Tragedi Lucu Penggerebekan Pengajian PKS



Posted on June 9, 2011 in Berita Pilihan, HeadLines, News | by admin
Suaranews – Mencuatnya kasus isu NII (Negara Islam Indonesia) dan pengusung Ideologi Khilafah, membuat masyarakat phobia dengan berbagai pengajian Islam. Hal inilah yang menjadikan beberapa masyarakat semakin waspadah terhadap orang-orang yang melakukan pengajian Islam.

Namun terdapat peristiwa yang menggelikan terjadi di Mojokerto beberapa waktu lalu. Sebagaimana biasanya, PKS (Partai Keadilan Sejahtera) yang mewajibkan kadernya untuk membuat pengajian pekanan bergantian dirumah setiap kader, dengan membahas keimanan, dunia islam dan rencana program kerja kegiatan PKS dimasing-masing daerah, kecamatan hingga desa. Hingga harus dicurigai sebagai pengajian NII.

Ketika pengajian sedang masuk tilawah Al Quran (pembacaan Al Quran) beberapa warga langsung berdatangan dengan membawa TNI, Polri dan SatPol PP. Beberapa orang terlihat sedikit emosi ketika berdialog dengan salah satu ustad PKS yang tengah mencoba menenangkan massa dengan sabar. Untuk mencegah hal yang tidak diinginkan, beberapa Polisi dan TNI mencoba untuk meredahkan ketegangan tersebut.

Disinilah peristiwa yang sedikit membuat kita tersnyum.

Ketika seorang anggota Polisi mencoba untuk melerai massa yang sedang emosi, tiba-tiba “Loh… Sampeyan ada disini mas?” kata anggota polisi tersebut sedikit kaget. Tidak disangka, anggota polisi tersebut mengenal ustad PKS tersebut, karena mereka teman bermain saat masih kecil.

Tetapi yang tidak kalah lucunya beberapa anggota TNI kaget “LOH… Senpai ada disini?” ucap salah satu anggota TNI. Ternyata tidak disangka Ustad PKS tersebut adalah senior yang mengajar Karate para TNI.

Anehnya, beberapa anggota SatPol PP malah lari. Karena para anggota SatPol PP tidak tahu bahwa pengajian yang akan digerebeknya ternyata diisi oleh ustad PKS yang juga salah satu anggota dewan di Mojokerto.

Setelah emosi para warga sudah mulai meredah, ustad PKS yang juga salah satu anggota dewan tersebut memberikan informasi mengenai pengajian wajib yang harus diikuti oleh setiap kader PKS untuk menambah keilmuan agama dan mendapatkan berbagai informasi-informasi, baik keputusan partai dan kegiatan partai.

Terlihat beberapa warga malu, karena ternyata pengajian yang mereka kira pengajian NII malah diisi langsung oleh anggota dewan, bahkan mereka ada yang kagum karena ada anggota dewan yang langsung ”turun-gunung” mengisi pengajian dirumah salah seorang kader partainya. Usut punya usut… ternyata orang-orang yang membuat isu pengajian tersebut adalah pengajian NII lantaran dari beberapa orang yang sakit hati terhadap salah satu kader PKS yang rumahnya ditempati untuk pengajian tersebut. Dan salah satunya juga adalah anggota Satpol PP yang ikut melarikan diri bersama teman-temannya yang lain. Salah satu warga berkata ”lanek saget, warga nggeh diajak ngaji bareng Ustad. Nggeh jarang-jarang teng mriki wonten anggota dewan seng marani. Opomaneh maringi ceramah agama, jarang teng mriki! ” (Kalau bisa, warga juga diajak ngaji bersama ustad. Yah jarang-jarang disini ada anggota dewan yang datangi. Apalagi memberikan ceramah agama, jarang disini).

Ustad PKS tersebut langsung merespon dengan baik usulan warga, dengan siap untuk mengadakan pengajian bersama warga.

(suaranews)

TAGS: anggota dewan di Mojokerto, anggota polisi, anggota SatPol PP malah lari, berbagai pengajian Islam, dicurigai sebagai pengajian NII, masyarakat phobia, masyarakat semakin waspadah, Mencuatnya kasus isu NII, mengajar Karate para TNI, Mojokerto, Negara Islam Indonesia, Partai Keadilan Sejahtera, pengajian pekanan, pengajian wajib, pengusung Ideologi Khilafah, PKS, Polri dan SatPol PP, program kerja kegiatan PKS, tilawah Al Quran, TNI, TNI kaget, ustad PKS

Read more: http://suaranews.com/tragedi-lucu-penggerebekan-pengajian-pks#ixzz1RNVmWB8P
Selengkapnya...

Jumat, 08 Juli 2011

Bunda Kaci, dari Aktivis Kristen Menjadi Aktivis Muslim



Kesadararan Kaci Starbuck tentang ajaran Kristen bermula ketika dibaptis di sebuah Gereja Baptis. Dari Sekolah Minggu, Kaci tahu doktrin agamanya mengajarkan bahwa "jika seseorang tidak dibaptis, maka ia akan masuk neraka." Tapi kesediaan Kaci dibaptis bukan karena takut masuk neraka, tapi karena ia ingin membahagiakan banyak orang, terutama ibunya yang mendorong Kaci agar mau dibaptis.

Sejak taman kanak-kanak hingga remaja, Kaci sudah aktif dalam berbagai kegiatan gereja, mulai dari ikut paduan suara gereja, perkemahan tahunan remaja gereja dan kegiatan lainnya. Kaci tumbuh sebagai anak yang memegang teguh ajaran agamanya, hingga kedua orang tuanya bercerai dan mengubah pandangannya pada agama, khususnya agama Kristen yang dianutnya.

Selama ini, Kaci melihat orang tuanya sebagai pasangan yang sempurna. Ayahnya salah seorang petinggi gereja, ibunya juga membina anak-anak muda gereja. Ketika orang tuanya bercerai, ibunya pergi dan Kaci tinggal bersama ayah dan dua saudara lelakinya. Tapi, tiga tahun setelah perceraian, Kaci dan dua saudara lelakinya pindah ke rumah ibunya. Ketika itu, Kaci menyaksikan ibunya tidak lagi pergi ke gereja dan itu mempengaruhi dua saudara lelaki Kaci yang akhirnya beranggapan bahwa pergi ke gereja tidak lagi penting. Sementara Kaci, lebih senang menikmati masa remajanya di bangku sekolah menengah pertama, bertemu dengan dengan banyak teman baru.

Kaci mulai bingung dengan ajaran Kristen ketika ia bertemu dengan seorang teman sekolahnya yang menganut Kristen dari aliran yang berbeda. Temannya itu mengundang Kaci datang ke rumah bertemu keluarganya, dan mengunjungi gerejanya. Kaci memenuhi undangan itu. Ia jadi akrab dengan keluarga sahabatnya itu, bahkan sering mengunjungi gereka mereka di akhir pekan.

Keluarga itu adalah penganut Kristen sekte "Perjanjian Baru". Penganut Kristen sekte ini tidak menggunakan alat musik dalam misa-misa gereja, tapi hanya menggunakan vokal dalam menyanyikan lagu-lagu gereja. Tidak ada pendeta khusus, tapi para sesepuh komunitas itu yang memberikan khutbah setiap minggu di gereja. Perempuan dilarang bicara di gereja, tidak ada perayaan natal, paskah dan hari besar Kristen lainnya, anggur dan roti komune diberikan setiap misa Minggu dan pembaptisan sangat penting bagi penganut sekte ini. Meski Kaci sudah pernah dibaptis, sekte ini tidak mengakui Kaci sebagai penganut "Kristen" jika belum dibaptis dengan cara mereka.

Karena bingung, Kaci mendiskusikan keyakinan sekte tersebut pada ibunya. Kaci merasa ia tidak perlu dibaptis lagi. Ia akhirnya meninggalkan gereja itu, ketika ia masuk kuliah. Saat itu Kaci memutuskan untuk tidak terikat pada gereja tertentu. Ia hanya sesekali pergi ke gereja untuk mendengarkan khutbah yang menurutnya penting.

Di tahun kedua kuliahnya, Kaci bergabung dengan Gereja Wake Forest sebagai penyanyi untuk mencari uang, bukan karena mengikuti aliran gereja itu. Di tahun kedua kuliahnya itu pula, Kaci bertemu dengan seorang muslim yang tinggal satu asrama dengannya.

Belajar Islam Kesana Kemari

Lewat teman muslimnya itu, Kaci sering berdiskusi tentang apa saja. Hingga suatu sore, Kaci menanyakan pada temannya yang muslim itu sebuah pertanyaan filosofis tentang keimanan dan agama. Dari penjelasan sahabatnya itu tentang Islam, Kaci jadi bertanya pada dirinya tentang agama yang dianutnya. Tapi sayang, setelah lama berkomunikasi, Kaci merasa sahabat muslimnya itu tidak lagi menjawab rasa ingin tahu dan memenuhi kebutuhan spiritual yang diinginkan Kaci.

Pada musim panas, Kaci bekerja di sebuah toko buku dan di sanalah ia banyak menemukan buku-buku tentang Islam. Ia bertemu lagi dengan seorang muslim lain di kampusnya, dan Kaci mulai melontarkan banyak pertanyaan padanya tentang Islam. Temannya itu selalu mengarahkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan Kaci pada Al-Quran yang membuat Kaci, mau tak mau membaca isi Quran. Selama satu tahun itu, Kaci dua kali berkunjung ke masjid lokal untuk mencari tahu lebih banyak tentang Islam, dan di sana Kaci merasakan kehidupan komunitas yang akrab.

"Setelah banyak membaca tentang Islam, saya jadi lebih sensitif jika mendengar pernyataan-pernyataan yang berkaitan dengan Muslim. Ketika mengambil kursus pengenalan tentang Islam, saya frustasi mendengar komentar seorang profesor tentang Islam yang saya tahu tidak benar, tapi saya tidak bisa mendebatnya," kata Kaci.

Di sela-sela kuliahnya, Kaci juga aktif dalam organisasi Islam Awareness di kampusnya. Ia bahkan menjadi orang Kristen dan perempuan satu-satunya yang aktif dalam organisasi itu. Kaci tak peduli dengan pandangan orang tentang aktivitasnya itu. Bergaul dengan muslim dan banyak membaca buku tentang Islam, membuat Kaci tidak lagi mengkonsumsi daging babi, tidak minum minuman beralkohol, dan mulai ikut berpuasa di bulan Ramadan. Perubahan ekstrim dilakukannya, ketika ia memutuskan untuk menutup rambutnya, meski bukan berjilbab.

"Sekali lagi, saya merasakan sebuah keindahan dan saya berpikir bahwa hanya suami saya yang boleh melihat rambut saya. Selama ini, saya tidak tahu menahu soal kewajiban jilbab dalam Islam, karena banyak muslimah di masjid yang saya kunjungi tidak mengenakan jilbab," ujar Kaci.

Untuk mencari tahu lebih banyak tentang Islam, Kaci bergabung dengan sebuah komunitas di sebuah situs Islam. Ia lalu bertemu dan berkorespondensi dengan seorang muslim yang juga tinggal di AS. Pada bulan Juli 1996, Kaci menelpon sahabatnya itu, ia menanyakan banyak hal tentang Islam dan Muslim dan mendapatkan jawaban yang masuk akal dan memuaskan. Keeseokan harinya, Kaci langsung datang ke masjid di kawasan Wake Forest, ditemani dua orang temannya, yang satu muslim dan satunya lagi non-Muslim. Tapi Kaci tidak menceritakan maksudnya datang ke masjid untuk apa.

Di masjid, Kaci mengatakan ingin bertemu imam masjid setelah memimpin salat dan memberikan ceramah. Ketika imam masjid datang padanyanya, Kaci bertanya apa yang perlu dilakukan untuk menjadi seorang muslim. Sang imam menjawab, pengetahuan dasar tentang Islam dan bersyahadat. Kaci lalu mengatakan bahwa ia sudah mempelajari Islam selama setahun dan sekarang ia siap menjadi seorang muslim.

Dan hari itu, tanggal 12 Juli 1996, Kaci mengucapkan dua kalimat syahadat dan resmi menjadi seorang muslimah. Setelah masuk Islam, Kaci sempat menemui kendala di tempat kerjanya karena ia mengenakan jilbab. Namun Kaci tetap mempertahankan jilbabnya. Di kampus, Kaci justru menjadi pemimpin organisasi Islam dimana ia dulu aktif di dalamnya. Dan ia dikenal dengan panggilan "Bunda Kaci."

Sumber: http://www.eramuslim.com/berita/dakwah-mancanegara/bunda-kaci-dari-aktivis-kristen-menjadi-aktivis-muslim.htm
Selengkapnya...

Kamis, 07 Juli 2011

AL- IMAN

TUJUAN
 Peserta memahami hubungan antara Iman, Islam dan Ihsan
 Peserta memahami hakekat iman
 Peserta mengetahui cara-cara mengimani Rukun Iman dengan benar sehingga termotivasi untuk melakukanNya.

METODE PENDEKATAN
 Games
 Ceramah dan diskusi



RINCIAN BAHASAN
Pendahuluan
Konsep-konsep tentang Iman, Islam dan Ihsan mungkin sudah pernah kita pelajari. Namun ternyata gambaran yang kita miliki selama ini belum cukup valid (shohih) dan integral (syamiil), karena kita melihat Iman, Islam dan Ihsan secara sektoral dan terpisah satu sama lain. Padahal ketiga konsep tersebut adalah merupakan satu bangunan yang dapat disebut sebagai RUMAH KITA, yang secara global terdiri dari tiga bagian utama, yaitu :
1. RUKUN IMAN, yang berfungsi sebagai lapisan fondasinya.
2. RUKUN ISLAM, yang berfungsi sebagai tiang penyangganya.
3. IHSAN, yang berfungsi sebagai atapnya.
Artinya: tegaknya Islam pada diri seseorang tergantung pada kualitas pondasinya dan daya tahan Islam pada diri seseorang tergantung pada kualitas atapnya. Jadi satu sama lain saling membantu, menguatkan dan memelihara.

Hakikat Iman
Pengertian Iman menurut ahlussunah : Iman terdiri dari tiga unsur, yaitu pembenaran dengan hati, diikrarkan dengan lisan dan diamalkan dengan anggota badan, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Jadi, Iman adalah keyakinan dan sekaligus juga amal [49:15].

Rukun Iman
Rukun Iman merupakan basis konsepsional atau landasan idiil yang mendasari pemikiran, ucapan dan tindakan seorang muslim. Artinya: seorang muslim yang beriman maka pemikiran, ucapan dan tindakannya tidak akan bertentangan dengan keimanannya kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Taqdir dan Kiamat. Orang yang beriman haruslah beriman kepada enam Rukun iman (2:285, 4:136) dan Hadits Ketika Nabi ditanya Malaikat Jibril tentang iman, maka jawab Nabi. ”Hendaklah engkau beriman kepada Allah, kepada Malaikat-Nya, kepada kitab-kitabNya, kepada Utusan-utusanNya, kepada Hari Kiamat dan hendaklah engkau beriman kepada Qodar yang baik dan yang buruk" (HR Muslim), barangsiapa yang mengingkari salah satunya maka ia telah mengingkari seluruh Rukun Iman.
1. Iman kepada Allah SWT . Konsekuensinya : mencintai Allah SWT [2:165]. Tanda-tandanya: lihat QS 8:2. Akibatnya: ikh1ash dalam menjalankan perintah-perintahNya.
2. Iman kepada Malaikat [50:16-18]. Konsekuensinya: tidak mungkin Seorang mu'min berbuat ma'siat karena selalu ditongkrongi Malaikat.
3. Iman kepada Kitab-Kitab [2:2, 20:1-3] Konsekuensinya: menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.
4. Iman kepada Nabi dan Rasul [33:40]. Konsekuensinya: mencintai dan mengikutinya [3:31-32].
5. Iman kepada Hari Akhir [3:185]. Konsekuensinya: mempersiapkan diri untuk menghadapiNya.
6. Iman kepada Takdir [22:7]. Konsekuensinya: berprinsip bahwa "Janganlah kita mempersoalkan apa-apa yang Allah ingin lakukan terhadap kita, tetapi kita harus melakukan apa-apa yang Allah ingin dari kita.”

REFERENSI
• Paket BP Nurul Fikri, Al-Iman
• DR. Muhammad Na'im, Yang Menguatkan Yang Membatalkan Iman,
• Abdul Majid Al-Zandany ,dkk, Al-Iman.
Selengkapnya...