Senin, 19 September 2011

Dibalik Perang Irak, Tentara-Tentara Korea Selatan Masuk Islam


Perang Irak memberi makna lain bagi "Unit Zaitun", nama pasukan Koera Selatan yang ikut dikirim ke Irak pada tahun 2006 sebagai bagian dari pasukan koalisi AS. Sebelum berangkat dan ditempatkan di kota Irbil, kota warga Kurdi di utara Irak, 37 anggota unit ini menyatakan diri masuk Islam dan bersyahadat di Masjid Hannam-dong, Seoul.

"Saya memutuskan menjadi seorang Muslim, karena saya merasa Islam sebagai agama yang lebih humanis dan damai dibandingkan agama-agama lainnya. Kalau kita bisa secara religius berinteraksi dengan warga lokal, saya pikir ini akan banyak membantu kami menjadi misi damai untuk melakukan rekonstruksi di Irak," kata Letnan Son Hyeon-ju dari pasukan khusus Brigade ke-11, salah satu tentara Korea Selatan yang masuk Islam.

Saat itu, pada hari Jumat di bulan Juli 2006, Hyeon-ju beserta 36 tentara Korea Selatan lainnya mengambil wudu, lalu duduk berjajar di dalam Masjid Hannam-dong. Dengan bimbingan imam masjid, mereka melafazkan dua kalimat syahadat dan mulai hari itu, para tentara yang akan diberangkatkan ke Irak itu resmi menjadi muslim.

Militer Korea mungkin tak pernah menyangka kesempatan untuk mempelajari Islam dan bahasa Arab bagi para tentara, terutama Unit Zaitun, yang akan dikirim ke Irak, akan membuat puluhan tentaranya masuk Islam. Pertimbangannya ketika itu, karena mayoritas penduduk kota Irbil adalah muslim, sedangkan tentara Korea yang akan dikirim adalah nonmuslim, maka para tentara itu dikirim ke Masjid Hannam-dong untuk belajar dan memahami tentang Islam dan komunitas Muslim. Ternyata, sebagian tentara itu malah benar-benar jatuh cinta pada Islam dan memutuskan untuk memeluk agama Islam.


Salah seorang anggota pasukan Unit Zaitu dari Divisi ke-11 Angkatan Bersenjata Korea Selatan, Kopral Paek Seong-uk yang masih berusia 22 tahun mengatakan, "Di kampus, saya mengambil jurusan bahasa Arab dan setelah membaca isi Al-Quran, saya jadi sangat tertarik pada Islam. Saya pun memutuskan untuk menjadi seorang muslim selama mengikuti program yang diselenggarakan Unit Zaitun, sebuah pengalaman religius buat saya."

Kopral Paek Seong-uk dengan antusias mengungkapkan keinginannya jika sudah sampai di Irak. "Saya ingin ikut serta dalam acara-cara keagamaan dengan warga lokal, sehingga mereka bisa merasakan rasa persaudaraan. Saya juga juga ingin memastikan warga lokal bahwa pasukan Korea Selatan bukan pasukan penjajah, tapi pasukan yang dikerahkan untuk membantu misi kemanusiaan di Irak," ujar Paek Seong-uk.

Tentara-tentara Korea yang memilih menjadi muslim itu, paham betul pentingnya homogenitas agama di tengah komunitas Muslim. "Jika agama Anda sama, Anda tidak akan diperlakukan sebagai orang asing, tapi akan diperlakukan seperti layaknya warga lokal. Lebih dari itu, Islam mengajarkan tata cara perang yang beradab. Muslim tidak boleh menyerang kaum perempuan, bahkan dalam peperangan," kata seorang pejabat militer Korea Selatan, mengomentari puluhan tentaranya yang masuk Islam. (kw/chosun.com/TTI)
sumber: http://www.eramuslim.com/berita/dakwah-mancanegara/dibalik-perang-irak-tentara-tentara-korea-selatan-masuk-islam.htm
Selengkapnya...

Selasa, 06 September 2011

Anak-Anak Gaza Berhasil Pecahkan Rekor Terbangkan Layang-Layang

Peristiwa perusakan perkemahan musim panas untuk anak-anak Gaza oleh sekelompok orang pada Kamis kemarin, tidak menyurutkan antusias anak-anak Gaza menerbangkan layang-layang untuk memecahkan rekor dunia.


Dan ribuan anak-anak Gaza berhasil memecahkan rekor dunia menerbangkan layang-layang yang saat ini dipegang oleh negara Cina. Anak-anak Gaza berhasil menerbangkan 13.000 layang-layang, sementara rekor yang dipegang Cina tahun 2010 lalu, hanya menerbangkan 10.465 layang-layang.

"Mengalahkan rekor negara Cina merupakan tantangan bagi anak-anak Gaza," kata Direktur UNRWA--badan bantuan PBB untuk pengungsi Palestina-- di Gaza, Christer Nordahl.

"Mereka menerbangkannya dengan pintar untuk menjawab tantangan itu, seperti yang pernah mereka lakukan tiga kali dalam tahun ini," sambung Nordahl.

Atas keberhasilan memecahkan rekor dunia, Nadia El Haddad,13, seorang anak Gaza mengungkapkan kegembiraannya, "Kami membawa kebahagiaan untuk negara kami dengan memecahkan rekor dunia ini. Hari ini, karena kami berhasil memecahkan rekor, saya merasa saya punya hak bahwa saya sama seperti setiap orang lainnya di dunia."

"Saya senang ketika menerbangkan banyak layang-layang. Kamilah yang terbaik," tambah Abdullah Musleh, anak Gaza berusia 11 tahun.

Rawia Abd El Dain, 11, juga mengungkapkan kebahagiannya. "Saya membuat layang-layang sendiri berbentuk bendera Palestina dan ketika saya menerbangkannya, saya merasa mendirikan negara saya dan bendera saya berkibar di langit," tukas Rawia.

Pihak UNRWA memuji semangat anak-anak Palestina untuk menumbangkan rekor negara Cina menerbangkan layang-layang, dan mereka berhasil melakukannya. "Ini sebuah prestasi yang mengagumkan, anak-anak Gaza yang berada dalam blokade ilegal Israel, mampu mengalahkan rekor negara besar seperti Cina," tandas direktur UNRWA.

Ia melanjutkan, "Layang-layang itu akan menjadi pengingat betapa semangat dan berpotensinya anak-anak Gaza, di tengah ketidakadilan yang mereka alami."

Dalam program perkemahan musim panas yang digelar UNRWA, anak-anak Gaza beberapa kali berhasil mencatatkan rekor dunia, antara lain jumlah terbesar menerbangkan parasut, jumlah terbesar memantulkan bola secara simultan dan berhasil membuat lukisan terbesar di dunia. (aisyah/ma'an)

Sumber: http://knrp.or.id/berita/duniaanak/anak-anak-gaza-berhasil-pecahkan-rekor-terbangkan-layang-layang.htm
Selengkapnya...