Selasa, 07 Desember 2010

TAWAZUN
(Keseimbangan)
Tujuan Pembelajaran
 Pembaca memahami makna dan hakikat tawazun
 Pembaca mengetahui potensi-potensi yang ada pada diri manusia dan kebutuhan-kebutuhannya
 Pembaca mengetahui contoh-contoh manusia yang tidak tawazun
 Pembaca termotivasi untuk dapat hidup tawazun

Pengertian
Tawazun artinya keseimbangan.
Sebagaimana Allah swt telah menciptakan alam ini berada dalam sebuah keseimbangan (QS.67:3-4)
Manusia dicipta untuk menghuni bumi dan menjadi khalifahNya (QS.2:30), dan diberinya petunjuk dalam mengarungi hidup dan kehidupan yaitu berupa Diin (QS.48:28) yang sesuai dengan fitrah manusia (QS.30:30) agar keseimbangan alam tetap terjaga dan menjadi rahmat bagi alam semesta serta manusia mendapatkan kebahagaan yang hakiki..

Manusia, seperti sering diungkap oleh para ulama, terdiri dari unsur ruh, aqal, dan jasad. Keparipurnaan manusia amat ditentukan oleh sejauh mana ketiga unsur itu tertarbiyah dengan optimal dan seimbang (tawazun).
Kepincangan dalam pembinaan terhadap ketiga unsur itu akan menyebabkan perilaku yang tidak seimbang (itidal) dan tidak moderat (wasoth). Dengan kata lain, menimbulkan perilaku ekstreem, baik sikap berlebihan (ifroth) atau ekstrem bawah yakni sikap malas dan lalai (tafrith). Misalnya, orang yang hanya dijejali aqalnya (fiqroh) dengan dokrin tentang kewajiban menegakkan diinullah tanpa dibarengi dengan pembinaan ruhiyah, biasanya kurang memiliki sikap tawadhu (rendah hati) dan kurang menghormati ijtihad orang lain, yang sering tampak, justru semangat mendebat dan berusaha menjatuhkan pihak yang dianggap tidak sefikroh dan tidak sethoriqoh. Contoh ketidak seimbangan lainnya adalah ketika terjadi penekanan hanya pada tazkiyatunnafs (pembersihan jiwa) dengan mengabaikan pembinaan bagian lainnya, maka tidak sedikit akan memunculkan orang yang penuh dengan “kekhusuan” dalam dzikir, namun kurang memiliki kepedulian dengan penderitaan yang diderita kaum muslimin atau tidak ambil pusing dengan kezholiman penguasa.

Permisalan lain yang sangat tragis adalah manusia yang hanya mendapat pembinaan untuk bekal duniawiyah dengan melupakan ukhrowiyah, ia akan menghalalkan berbagai cara dalam mencapai tujuan, dan kerusakan yang ditimbulkan oleh manusia seperti ini sangat besar dan dahsyat, dengan ilmu dan keterampilan yang dimiliki, jabatan dan kekuasaannya, yang dibunuh bukan hanya satu persatu orang, tapi sebuah negeri dengan sekali pukul (contoh: nagasaki dan herosima), yang dimakan bukan hanya pucuk-pucuk pohon untuk lalaban, ikan bakar untuk lauk, air untuk minum dsb, tatapi hutan, gunung, lembah, dan lautan habis dimakannya. Naudzubillahimin dzalik.

3 (tiga) potensi manusia, yang perlu ditarbiyah secara seimbang

1. Jasadiyah
Diberi makan yang halal lagi thayyib –makanan yang dimakan - (QS.2:168, 172 / 78:9)
Dilatih dengan berolah raga
Dll, intinya agar jasadiyah sehat dan kuat
(Ajari anak-anakmu memanah, menunggang kuda dan berenang, hadits)
( Mu’min yang kuat lebih baik/ lebih disukai Allah dari pada mu’min yang lemah. HR.Muslim)
2. Aqliyah
Diberi makanan yang halal lagi thayyib – ilmu yang dipelajari - (QS.3:190 / 96:1-5 / 2:30-33/ 58:11)
Dilatih dengan menuntut ilmu
Dll, intinya agar aqliyah sehat dan kuat
(afala yanzhuruun = apakah mereka tidak memperhatikan, afalaa ta’qiluun = apakah kamu tidak mempergunakan aqalmu , afala yatadabbaruun = apakah mereka tidak merenungkan, yaa ulil albaab = wahai orang-orang yang beraqal)
(Menuntu ilmu itu wajib bagi muslim lai-laki dan wanita, dan tuntutlah ilmu dari buian hingga liang lahat. Al Hadits)
3. Ruhiyah
Diberi makanan yang halal lagi toyyib – banyak dzikir/ ingat kepada Allah – (QS.3:190 / 33:41 / 13:28-29)
Dilatih dengan beribadah kepadaNya
Dll, intinya agar ruhiyah sehat dan kuat
(senantiasa beraktivitas dengan ikhlas, yaitu lillah, billah, ilallah)

Dengan tarbiyah yang tawazun terhadap tiga potensi ini, manusia dapat meraih kesuksesan/ kebahagiaan yang hakiki yang merupakan ni’mat Allah, kebahagiaan lahir bathin, dunia akhirat.

Contoh – contoh manusia yang tidak seimbang
 Manusia Atheis : tidak mengakui Allah, hanya bersandar pada aqal/ rasio sebagai dasar
 Manusia materialis : mementingkan masalah jasadiyah / materi saja
 Manusia Pantheis (Kebatinan) : bersandar pada hati / batinnya saja

Referensi
 Materi Mentoring Agama Islam

0 komentar:

Poskan Komentar